Vaksin Malaria Buatan Indonesia Segera Hadir, Jawab Tantangan Vivax yang Belum Terpecahkan Dunia
Jakarta - Upaya Indonesia untuk lepas dari bayang-bayang malaria memasuki babak baru. Pemerintah tengah menyiapkan senjata yang belum pernah dimiliki sebelumnya, yakni vaksin malaria buatan dalam negeri. Langkah ini menjadi penting karena jenis parasit yang dominan di Tanah Air, Plasmodium vivax, belum memiliki vaksin yang tersedia di mana pun di dunia.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara langsung menanyakan perkembangan riset vaksin malaria dalam rapat terbatas di Istana pada Selasa (27/10). Presiden meminta agar riset tersebut dipercepat. BRIN bersama Kementerian Kesehatan dan Bio Farma berharap proses pengembangan vaksin bisa selesai tiga tahun lebih cepat dari jadwal semestinya.
Selama ini, dunia telah memiliki dua vaksin malaria yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni RTS,S dan R21. Namun keduanya dirancang untuk melawan Plasmodium falciparum, jenis parasit paling mematikan yang mendominasi Afrika. Kedua vaksin itu tidak memberikan perlindungan terhadap Plasmodium vivax, parasit penyebab sakit terbanyak di Asia Tenggara. Arif menyebut karakter parasit malaria di Indonesia agak berbeda, dan karena itu Presiden menekankan pentingnya kontribusi Indonesia bagi dunia melalui vaksin vivax yang belum ada padanannya.
Bagi Papua, celah perlindungan itu terasa sangat dekat. Studi di Timika pada 2004-2005 mencatat 37 persen kasus malaria terkonfirmasi disebabkan vivax, dan pada bayi di bawah satu tahun vivax murni justru menjadi penyebab terbanyak. Vivax yang kebal klorokuin pertama kali dilaporkan dari Papua pada 1989, dan kawasan ini kemudian dikenal memiliki tingkat vivax resisten obat tertinggi di dunia. Penelitian lanjutan di rumah sakit Timika bahkan mengaitkan vivax multiresisten dengan malaria berat hingga kematian, terutama pada anak kecil. Selama puluhan tahun vivax dianggap malaria jinak, namun dari Papua anggapan itu dikoreksi.
Perjalanan panjang penanganan malaria di Indonesia sendiri sudah dimulai sejak era kemerdekaan. Pada 12 November 1959, Presiden Soekarno menyemprotkan DDT di rumah warga Desa Kalasan, Yogyakarta, menandai dimulainya pembasmian malaria secara nasional. Lima tahun berselang sekitar 63 juta penduduk terlindungi, dan tanggal itu diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional. Penyemprotan massal tersebut menyisir rumah-rumah di Jawa, Bali, dan Lampung.
Namun wilayah timur menunggu jauh lebih lama. Hingga 2026, sekitar 80 persen kabupaten/kota sudah dinyatakan bebas malaria, sementara 95 persen kasus nasional terkumpul di Tanah Papua. Sepanjang 2025 Kementerian Kesehatan mencatat 706.297 kasus, angka yang melonjak karena petugas makin gencar menemukan kasus di lapangan dan pelaporan kian tertib secara digital.
Jejak malaria bahkan menyentuh sejarah sains dunia. Pada Februari 1858, di sebuah gubuk di Dodinga, Halmahera, antropolog ternama Alfred Russel Wallace terbaring dengan tubuh yang bergantian menggigil dan berkeringat. Malaria menahannya berhari-hari di desa kecil yang dikepung bukit rendah itu. Di sela demam, gagasan tentang seleksi alam melintas di kepalanya, lalu ia tulis dan kirimkan kepada Charles Darwin di Inggris. Makalah itu bertanda Ternate, sehingga dunia mengira teori evolusi lahir di pulau rempah tersebut. Jurnal lapangan Wallace yang tersimpan di Linnean Society London mencatat hal lain: sepanjang Februari ia berada di Halmahera, sakit, dan baru kembali ke Ternate pada 1 Maret. Untuk demamnya, juga demam para pembantunya, ia mengandalkan kina.
Kini, penyakit yang menemani Wallace di Halmahera itu masih bermukim di timur. Kehadiran vaksin vivax buatan sendiri diharapkan menjadi titik balik penanganan malaria nasional, sekaligus menutup celah perlindungan yang selama ini tidak mampu diisi vaksin global. Dampaknya bagi masyarakat, khususnya di Tanah Papua, bukan hanya soal menurunkan angka kesakitan dan kematian, tetapi juga membuka jalan bagi perlindungan yang lebih merata dan berkeadilan terhadap kelompok rentan seperti bayi dan anak kecil yang selama ini paling terdampak vivax.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.