Sumpah Pemuda Jadi Momentum Aksi Nyata, SEMA PTKIN Gelar Bakti Sosial Serentak di Seluruh Indonesia
Jakarta - Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SEMA PTKIN) se-Indonesia menggelar aksi bakti sosial serentak di seluruh wilayah Indonesia pada 28 Oktober 2026. Kegiatan bertajuk "Rakyat Bantu Rakyat" ini digelar untuk memperkuat kepedulian sosial dan solidaritas antarmasyarakat, sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Koordinator Pusat SEMA PTKIN se-Indonesia, Muhammad Rafli, menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa dan upaya mewujudkan semangat persatuan. Menurutnya, peringatan Sumpah Pemuda tidak cukup dilakukan melalui seremoni dan slogan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Bagi kami, rakyat bantu rakyat bukan sekadar slogan. Ini adalah gerakan nyata bahwa di tengah berbagai persoalan bangsa, rakyat tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Mahasiswa harus hadir, bergerak, dan menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat," ujar Rafli dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dalam kesempatan itu, Rafli juga menyoroti pentingnya konsistensi antara slogan institusi dan pelaksanaannya di lapangan, termasuk slogan Polri Bersama Masyarakat. Ia menegaskan bahwa jika benar-benar bersama masyarakat, maka suara mereka harus didengarkan. Menurutnya, bersama masyarakat seharusnya berarti melindungi, mendengar, dan mengayomi, bukan membuat masyarakat takut menyampaikan pendapat.
Rafli menambahkan bahwa kritik terhadap dugaan tindakan represif bukan merupakan bentuk permusuhan terhadap institusi, melainkan bagian dari kontrol publik dalam negara demokrasi. Karena itu, setiap dugaan pelanggaran harus diperiksa secara objektif, transparan, dan akuntabel.
SEMA PTKIN se-Indonesia mengajak seluruh elemen pemuda menjadikan Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian sosial, memperluas manfaat bagi masyarakat, serta menjaga demokrasi yang menghormati hak setiap warga negara.
"Persatuan bukan berarti semua harus diam. Sumpah Pemuda mengajarkan kita untuk bersatu dalam perbedaan, bukan menyeragamkan suara," kata Rafli.
Aksi bakti sosial serentak ini menjadi cerminan bahwa semangat Sumpah Pemuda tetap relevan di era modern, tidak hanya sebagai refleksi sejarah tetapi juga sebagai pendorong aksi kolektif. Bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa di tengah persoalan sosial diharapkan mampu menghadirkan solusi konkret dan memperkuat rasa saling peduli antarwarga. Langkah ini juga menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa dibangun bukan hanya melalui upacara, tetapi melalui kepedulian yang nyata dan konsisten terhadap sesama.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.