Rosan Roeslani Tekankan Investasi Berkualitas, Hilirisasi Nikel Jadi Bukti Nyata
Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal serta CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia tidak boleh sekadar mengejar angka. Menurutnya, kualitas investasi jauh lebih penting karena harus mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, mendorong transfer pengetahuan dan teknologi, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan dalam acara Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis. Ia menjelaskan bahwa pihaknya memiliki tolok ukur jelas dalam menilai kualitas investasi, bukan hanya dari besaran nominal yang tercatat, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi investasi sejak triwulan IV tahun 2024 hingga triwulan III tahun 2026 telah mencapai Rp3.923,2 triliun. Capaian itu setara dengan 30,1 persen dari target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun hingga tahun 2029. Dari jumlah tersebut, penanaman modal dalam negeri menyumbang Rp1.998,7 triliun, sedangkan penanaman modal asing mencapai Rp1.924,5 triliun dengan asumsi kurs APBN Rp16.500 per dolar Amerika Serikat. Investasi yang masuk tercatat telah menyerap 5,48 juta tenaga kerja.
Rosan lantas mencontohkan hilirisasi nikel sebagai bukti konkret bagaimana pengolahan sumber daya alam di dalam negeri mampu mendongkrak nilai tambah secara signifikan. Indonesia diketahui menguasai sekitar 46 persen cadangan nikel dunia. Sebelum kebijakan hilirisasi diterapkan, nilai ekspor nikel Tanah Air hanya sekitar 3,3 miliar dolar Amerika Serikat. Namun setelah industri pengolahan dikembangkan, nilai ekspor nikel beserta produk turunannya melesat hingga mencapai 30 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2025.
Menurut Rosan, lonjakan tersebut membuktikan bahwa mengolah bahan mentah di dalam negeri jauh lebih menguntungkan dibandingkan mengekspornya secara langsung. Ia menekankan bahwa manfaat investasi harus dilihat dari peningkatan kemampuan tenaga kerja dan penguasaan teknologi, sehingga industri nasional mampu tumbuh dan bersaing lebih kuat di tingkat global.
Dalam kesempatan itu, Rosan juga menyoroti peran Kadin Indonesia dalam mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah untuk naik kelas melalui dukungan serta kemitraan dengan perusahaan besar. Ia bahkan berharap jumlah UMKM di Indonesia semakin berkurang seiring makin banyak pelaku usaha yang berhasil mengembangkan bisnisnya ke skala menengah maupun besar.
Analisis singkat, arah kebijakan investasi yang menekankan kualitas ini berpotensi membawa dampak positif bagi masyarakat luas. Jika transfer teknologi dan peningkatan keterampilan tenaga kerja benar-benar berjalan, kualitas lapangan kerja yang tercipta pun akan meningkat, bukan sekadar menambah jumlah pekerja. Hilirisasi yang terbukti melipatgandakan nilai ekspor nikel juga menjadi sinyal bahwa pengolahan sumber daya alam di dalam negeri dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih berkelanjutan. Sementara itu, dorongan agar UMKM naik kelas diharapkan memperkuat struktur ekonomi nasional dan memperluas kelas menengah usaha di tanah air.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.