Camino de Flores Bantu Jaga Warisan Budaya Ende Lewat Revitalisasi Rumah Adat dan Rumah Tenun
Labuan Bajo, NTT - Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya lokal di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Melalui rangkaian kegiatan Camino de Flores, dukungan nyata diwujudkan dalam bentuk bantuan pembangunan rumah tenun di Kelibara serta revitalisasi rumah adat di Wologeru, Kabupaten Ende.
Pelaksana tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyampaikan bahwa inisiatif ini membuktikan perjalanan wisata tidak sekadar menjadi aktivitas rekreasi, melainkan juga menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, serta menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi.
Dukungan tersebut diberikan oleh Menteri Pariwisata periode 2011-2014, Mari Elka Pangestu, bersama arsitek Yori Antar, sebagai bagian dari rangkaian penutupan kegiatan Camino de Flores. Bantuan pertama ditujukan untuk pembangunan rumah tenun di Kelibara yang nantinya akan diberi nama Sao Tege Seda Camino Kelibara. Selain itu, bantuan juga dialokasikan untuk mendukung revitalisasi Rumah Adat Ata Ngi'i Ngape di Wologeru yang setelah proses penataan akan dinamai Sao Ria Ngi'i Nangape Camino Wologeru.
Pelestarian kedua bangunan tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan pengetahuan tradisional, keterampilan menenun, dan identitas budaya masyarakat Ende. Arsitek Yori Antar sendiri dikenal aktif mendorong pelestarian arsitektur tradisional Nusantara melalui gerakan Rumah Asuh, yang mengedepankan pelestarian rumah adat melalui pembangunan kembali dan pelibatan masyarakat setempat.
Andhy menambahkan bahwa upaya pelestarian rumah adat dan rumah tenun tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata. Lebih dari itu, langkah ini juga bertujuan menjaga nilai-nilai budaya yang melekat pada bangunan tradisional serta memastikan pengetahuan lokal tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, Camino de Flores memperlihatkan potensi besar pengembangan pariwisata Flores melalui perpaduan wisata religi, alam, sejarah, dan budaya. Perjalanan yang menghubungkan berbagai wilayah dan komunitas ini memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal kehidupan masyarakat sekaligus memahami warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas Flores.
Pengalaman berjalan kaki dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di sepanjang rute Camino de Flores dinilai memberikan nilai tambah bagi pengembangan pariwisata. Pasalnya, pengalaman tersebut tidak hanya menawarkan aspek rekreatif, tetapi juga spiritual dan sosial.
BPOLBF berharap pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan paket wisata berbasis minat khusus di Flores, termasuk wisata religi dan perjalanan lintas destinasi yang melibatkan desa wisata, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas budaya, serta masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata berbasis budaya diharapkan turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan pelestarian tradisi dan identitas lokal.
Ke depan, Camino de Flores diharapkan menjadi awal bagi penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku pariwisata, komunitas budaya, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya serta mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Pulau Flores. Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa pariwisata budaya dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat setempat.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.