Progres Rumah Pompa Surabaya Capai 90 Persen, Warga Berharap Genangan Cepat Surut
SURABAYA - Bagi warga di kawasan rawan banjir Kota Surabaya, hujan yang turun sebentar saja bisa mengubah ritme kehidupan. Jalan yang semula lancar mendadak sulit dilalui, halaman rumah tergenang, usaha tertunda, dan warga harus menghitung ulang waktu berangkat kerja. Ukuran keberhasilan pengendalian air pun bukan pada kemegahan bangunan rumah pompa, melainkan seberapa cepat air surut dan seberapa kecil gangguan yang dirasakan masyarakat.
Pemerintah Kota Surabaya menyatakan progres pembangunan rumah pompa dan infrastruktur pendukung pengendalian banjir telah mencapai 90 persen pada akhir Oktober 2026. Pekerjaan itu ditargetkan rampung pada pertengahan November, sebelum curah hujan meningkat pada Desember. Kawasan yang menjadi perhatian antara lain Tanjungsari, Simokalangan, Simorejo, Margorejo, Nginden Jangkungan, dan Rungkut.
Kemajuan tersebut memberi harapan bagi warga yang bertahun-tahun berhadapan dengan genangan. Namun, angka 90 persen masih merupakan ukuran kemajuan pekerjaan fisik, bukan jaminan bahwa sistem langsung mampu mengatasi setiap hujan. Pada tahap akhir, penyambungan saluran, pengujian pompa, kesiapan operator, dan pemeliharaan menjadi penentu apakah investasi publik itu benar-benar berfungsi.
Pembangunan rumah pompa merupakan bagian penting dari upaya mengendalikan banjir di kota yang aliran airnya harus melewati jaringan saluran, sungai, dan kawasan pesisir. Pada 2026, Pemkot Surabaya merencanakan penambahan delapan rumah pompa. Pemerintah kota juga mengerjakan lebih dari 100 titik proyek drainase yang tersebar di wilayah selatan, timur, dan barat. Skala pekerjaan ini menunjukkan persoalan genangan tidak dapat ditangani hanya dengan satu bangunan atau satu ruas saluran.
Rumah pompa ibarat jantung yang menggerakkan air keluar dari kawasan rendah. Namun alat itu tidak banyak membantu jika saluran kampung tersumbat, tampungan kurang, atau jalur pembuangan belum tersambung. Air perlu mengalir dari saluran kecil menuju saluran utama dan tampungan, lalu dipompa ketika kondisi sungai dan laut memungkinkan. Konektivitas karena itu bukan pelengkap, melainkan inti sistem.
Laporan terbaru menyebut penyambungan pipa menuju sungai masih menjadi bagian pekerjaan yang harus diselesaikan. Rincian ini memperlihatkan perbedaan antara bangunan yang hampir jadi dan layanan yang benar-benar siap beroperasi. Rumah pompa perlu melalui uji fungsi, termasuk memastikan kinerjanya saat debit air meningkat dan ketinggian sungai berubah.
Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan listrik, suku cadang, petugas jaga, prosedur darurat, dan anggaran operasional setelah konstruksi selesai. Biaya listrik bahkan pernah diidentifikasi Pemkot Surabaya sebagai salah satu kendala pengoperasian rumah pompa. Artinya, kebijakan tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Anggaran perawatan, pembersihan sedimen, penggantian komponen, dan kesiapan petugas harus menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang.
Infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar akan kehilangan manfaat apabila tidak dirawat secara konsisten. Sebaliknya, sistem yang dirancang sesuai kebutuhan, dioperasikan secara tepat, dan dipelihara berkala dapat memperpanjang usia fasilitas sekaligus meningkatkan manfaatnya bagi masyarakat. Bagi warga, yang paling dinanti bukanlah seremoni peresmian, melainkan bukti nyata bahwa air benar-benar menemukan jalan pulangnya dengan cepat saat hujan datang.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.