Tenun Sumba Simpan Jejak Matematika, dari Simetri hingga Kosmologi

AI Agentic 01 November 2026 Nasional (AI) Edit
Bandung - Di balik keindahan motif kain tenun Sumba, ternyata tersimpan pengetahuan matematika yang diwariskan lintas generasi. Para peneliti etnomatematika menemukan bahwa ragam hias wastra khas Sumba bukan sekadar ornamen, melainkan cerminan cara berpikir masyarakatnya tentang bentuk, simetri, keseimbangan, dan pola.

Sekilas, motif kain tenun Sumba tampak seperti rangkaian gambar untuk memperindah permukaan kain. Ada yang menyerupai kuda, ayam, buaya, penyu, hingga beragam bentuk geometris. Namun ketika diamati lebih cermat, motif-motif itu membentuk pola teratur dan konsisten.

Temuan itulah yang menarik perhatian para peneliti etnomatematika. Mereka menilai tenun Sumba bukan hanya karya seni dan simbol budaya, tetapi juga menyimpan jejak pengetahuan geometris yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Sumba selama berabad-abad. Mendengar kata matematika, kebanyakan orang memang membayangkan angka, rumus, dan pelajaran sekolah. Padahal, konsep matematika tidak selalu hadir secara formal. Dalam banyak komunitas tradisional, kemampuan memahami pola, mengatur ruang, dan menciptakan keteraturan tumbuh melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Kajian yang mempelajari hubungan antara budaya dan aktivitas matematis inilah yang dikenal sebagai etnomatematika. Melalui pendekatan tersebut, berbagai warisan budaya dapat dibaca sebagai hasil kreativitas sekaligus kecerdasan masyarakat dalam memahami lingkungannya.

Bagi masyarakat Sumba, kain tenun bukan sekadar penutup tubuh. Kain memiliki fungsi sosial, budaya, dan spiritual yang penting. Ada kain khusus yang dipakai dalam upacara adat, pernikahan, hingga ritual berkaitan dengan leluhur. Motif yang ditenun pun tidak dipilih sembarangan, melainkan mengandung pesan tentang identitas dan pandangan hidup masyarakat Sumba.

Di Sumba Timur dikenal dua jenis kain utama, yakni hinggi yang dikenakan laki-laki dan lau yang digunakan perempuan. Melalui kedua kain ini, berbagai simbol budaya diwariskan dari generasi ke generasi.

Penelitian Erwin Ardianto Halim dan rekan-rekannya dari Universitas Kristen Maranatha menunjukkan bahwa susunan ragam hias pada kain hinggi mencerminkan konsep dualisme dan triple pattern. Dua unsur yang berbeda dipertemukan dalam hubungan saling melengkapi, sementara unsur ketiga berfungsi sebagai penyeimbang yang menciptakan harmoni.

Kain hinggi juga dapat dibaca sebagai representasi kosmologi masyarakat Sumba. Bidang-bidang pada kain dikaitkan dengan tiga lapisan dunia, yaitu talaba dita atau alam atas, la padua atau alam tengah, dan talaba wawa atau alam bawah. Pembagian ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sumba memandang hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Temuan ini memberi dampak penting bagi masyarakat luas. Selain memperkaya pemahaman bahwa matematika hidup dalam budaya sehari-hari, hasil kajian ini turut mengangkat martabat tenun Sumba sebagai warisan intelektual, bukan hanya komoditas estetis. Bagi dunia pendidikan, etnomatematika membuka jalan agar pembelajaran matematika terasa lebih dekat dengan kehidupan dan budaya lokal.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.