Jepang Gandeng Swasta Bangun Roket Peluncur Satelit Darurat, Anggaran Rp8 Miliar Disiapkan
Tokyo - Kementerian Pertahanan Jepang membuka pintu bagi perusahaan swasta untuk mengajukan proposal penelitian dan pengembangan roket berukuran kecil. Roket ini dirancang khusus untuk meluncurkan satelit pengganti dengan cepat ketika satelit yang sudah berada di orbit mengalami serangan atau gangguan fungsi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pertahanan antariksa Jepang yang semakin serius. Pemerintah telah mengalokasikan sekitar 70 juta yen atau setara 444.000 dolar AS, sekitar Rp8,03 miliar, dalam anggaran tahun fiskal 2026 untuk mendukung inisiatif penelitian tersebut. Tujuannya tidak lain adalah mempercepat pengembangan sistem transportasi luar angkasa yang mampu merespons situasi darurat dengan sigap.
Dalam proses seleksi proposal, kementerian akan mengkaji sejumlah aspek penting, mulai dari biaya pengembangan, metode yang digunakan, hingga waktu produksi roket. Pemerintah Jepang menargetkan penetapan perusahaan pelaksana proyek paling lambat Februari tahun depan. Kementerian juga tengah mempertimbangkan pemanfaatan pencetak 3D dan perangkat lain guna meningkatkan efisiensi produksi komponen roket. Opsi peluncuran pun masih dikaji, apakah dilakukan dari darat, laut, atau udara.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menegaskan urgensi inisiatif ini. Dalam konferensi pers pada Oktober, ia menyatakan bahwa dari perspektif keamanan, kemampuan memulihkan fungsi satelit secara cepat menjadi sangat krusial, terutama dalam situasi darurat. Ia menekankan perlunya akses cepat ke luar angkasa untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Saat ini, sekitar separuh peluncuran satelit Jepang masih bergantung pada roket dari luar negeri. Ketergantungan ini menjadi salah satu alasan kuat bagi Jepang untuk mengembangkan kemampuan mandiri. Negara itu mengoperasikan konstelasi satelit berukuran kecil untuk memantau berbagai sasaran. Sejumlah pakar telah memperingatkan bahwa China dan Rusia tengah mengembangkan apa yang disebut satelit penghancur, yang mampu menyerang dan melumpuhkan satelit negara lain.
Melalui inisiatif ini, Kementerian Pertahanan Jepang berharap dapat mendorong inovasi teknologi di kalangan perusahaan swasta sekaligus memperkuat industri antariksa nasional. Sektor ini dipandang sebagai salah satu bidang yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi oleh pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Satelit sendiri kini telah menjadi infrastruktur penting yang tak terpisahkan dari layanan komunikasi dan sistem penentuan posisi akurat di Bumi.
Koizumi menutup dengan optimisme tinggi. Ia menyatakan bahwa dunia transportasi antariksa sedang memasuki era transformasi besar dan berharap sistem baru yang mampu bersaing secara global dapat lahir dari Jepang.
Dampak bagi masyarakat Jepang maupun global cukup signifikan. Kemampuan meluncurkan satelit pengganti dengan cepat akan memperkuat ketahanan infrastruktur komunikasi dan navigasi yang menjadi tulang punggung berbagai layanan sehari-hari. Selain itu, keterlibatan swasta dalam proyek pertahanan ini berpotensi membuka lapangan kerja baru dan mendorong transfer teknologi ke sektor industri sipil. Namun, eskalasi perlombaan senjata antariksa antara Jepang, China, dan Rusia juga menjadi catatan tersendiri yang perlu dicermati masyarakat internasional.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.