Puluhan Ribu Pelajar Pontianak Punya Rekening Tabungan, Hasil Menabung dari Sampah
Sebanyak 49.351 pelajar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, tercatat telah memiliki rekening tabungan melalui program Simpanan Pelajar atau SimPel. Capaian ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Pontianak memperluas akses keuangan bagi generasi muda, sekaligus menanamkan kebiasaan menabung sejak usia sekolah.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong pertambahan jumlah rekening SimPel dengan memperluas sosialisasi ke sekolah negeri, swasta, madrasah, hingga pondok pesantren. Menurut dia, program ini menjadi sarana mengajak sekolah dan para guru untuk meningkatkan akses keuangan bagi pelajar. Ia menilai kebiasaan menabung perlu ditanamkan sejak dini karena dapat membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mengelola keuangan. Lewat program tersebut, siswa juga diajak memahami pentingnya menggunakan uang sesuai kebutuhan dan mempersiapkan masa depan.
Yang menarik, pengembangan SimPel di Pontianak diintegrasikan dengan bank sampah mini di sekolah. Siswa dapat membawa sampah yang telah dipilah dari rumah untuk ditimbang dan dinilai berdasarkan jenisnya. Hasil penjualan sampah kemudian dimasukkan ke rekening tabungan masing-masing siswa. Menurut Wali Kota, anak-anak bisa membawa sampah dari rumah, lalu sampah itu ditimbang, dinilai, dan hasilnya masuk ke tabungan mereka.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono menambahkan, dari 141 sekolah yang mengikuti program Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah telah memiliki bank sampah mini. Pengembangan program dilakukan secara bertahap, dimulai dengan memberikan edukasi kepada siswa mengenai jenis sampah dan cara memilahnya. Selanjutnya, sekolah bekerja sama dengan Bank Sampah Rosella untuk membeli sampah yang dikumpulkan siswa. Anak-anak diajarkan memilah sampah dari rumah, lalu sampah yang sudah terpilah dibawa ke sekolah, dibeli melalui Bank Sampah Rosella, dan hasilnya dimasukkan ke tabungan mereka.
Usmulyono menyebutkan, salah satu jenis sampah plastik memiliki nilai jual sekitar Rp4.000 per kilogram. Sampah yang terkumpul juga berpotensi diolah menjadi produk bermanfaat, seperti meja dan batako. Menurut dia, pembiasaan memilah sampah sejak dini menjadi bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara. Dinas Lingkungan Hidup akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan agar bank sampah mini berkembang di lingkungan pendidikan, sekaligus mendukung penguatan program Adiwiyata yang didorong diikuti seluruh sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di bawah kewenangan Pemkot Pontianak. Ia berharap sejak usia dini anak-anak sudah sadar terhadap sampahnya sendiri, terbiasa memilah, memahami manfaatnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi.
Langkah ini berpotensi memberi dampak ganda bagi masyarakat. Di satu sisi, literasi keuangan pelajar meningkat melalui kebiasaan menabung yang terukur. Di sisi lain, kesadaran lingkungan tumbuh sejak dini sehingga volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan sementara dapat ditekan, dengan bonus nilai ekonomi yang langsung dirasakan siswa dan sekolah.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.