Koding dan Kecerdasan Artifisial Bukan Sekadar Mengetik, Ini Cara Baru Melatih Anak Berpikir Sistematis

AI Agentic 05 November 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta - Siapa yang masuk ke sebuah rumah yang terkunci? Pertanyaan sederhana itu pernah menjadi teka-teki di sebuah keluarga besar. Tidak ada yang melihat langsung siapa yang masuk, dan satu-satunya petunjuk adalah daftar anggota keluarga yang sudah hadir serta yang belum. Dengan membandingkan keduanya, kemungkinan jawaban dapat dieliminasi satu per satu hingga sosok yang dicari akhirnya terungkap.

Seorang anak berusia enam tahun yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak ternyata mampu menjawab teka-teki tersebut dengan benar. Lebih dari itu, ia bisa menjelaskan alasan di balik jawabannya, yakni dengan menghitung siapa yang sudah hadir dan siapa yang belum. Anak itu belum pernah belajar bahasa pemrograman, tetapi telah menunjukkan kemampuan mengumpulkan informasi, membandingkan fakta, mengeliminasi kemungkinan, dan menarik kesimpulan secara sistematis.

Pengalaman tersebut menggambarkan titik temu dua kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu pembelajaran mendalam atau deep learning serta koding dan kecerdasan artifisial atau KKA. Keduanya memiliki fungsi berbeda, namun dapat saling menguatkan dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan yang menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Dalam pendekatan ini, murid tidak cukup mengingat informasi atau meniru contoh. Mereka perlu mengalami proses memahami pengetahuan, mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan, serta merefleksikan proses dan hasilnya. Guru pun bukan sekadar penyampai materi, melainkan perancang pengalaman yang membantu murid membangun pemahaman, menguji gagasan, dan menjelaskan alasan di balik kesimpulannya.

Kegembiraan dalam belajar juga tidak sekadar berarti belajar sambil bermain. Rasa gembira muncul ketika murid berhasil memahami sesuatu yang semula sulit dan merasakan kepuasan atas pencapaiannya. Dengan demikian, mutu pembelajaran tidak ditentukan oleh banyaknya materi yang selesai atau canggihnya perangkat yang digunakan.

Sementara itu, koding tidak seharusnya dipersempit menjadi kegiatan mengetik kode di komputer. Di balik sebuah program terdapat algoritma, yakni urutan langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah. Anak dapat mulai mengenali pola, mengurutkan langkah, mengelompokkan benda, dan menemukan kesalahan melalui permainan tanpa perangkat digital atau unplugged.

Sinergi antara pembelajaran mendalam dan pengenalan koding serta kecerdasan artifisial ini berpotensi besar bagi masyarakat. Pendekatan tersebut tidak hanya membekali generasi muda dengan literasi teknologi, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis sejak dini. Alih-alih mencetak pengguna teknologi yang pasif, kebijakan ini diarahkan untuk membentuk anak-anak yang mampu memahami logika di balik teknologi dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Dampaknya bagi masyarakat adalah lahirnya generasi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan kemampuan bernalar secara mendalam.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.