Menteri Ekraf Sebut 27,4 Juta Pekerja Kreatif Didominasi Generasi Z, Anak Muda Diminta Tak Hanya Incar Jadi ASN
Jakarta - Sektor ekonomi kreatif nasional kini mencatatkan angka yang signifikan. Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengungkapkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor ini telah mencapai 27,4 juta orang. Angka tersebut didominasi oleh generasi Z dan milenial di bawah usia 40 tahun, dengan keterlibatan pekerja perempuan mencapai 58 persen.
Menurutnya, potensi ekonomi kreatif saat ini tersebar di hampir seluruh daerah dengan subsektor yang beragam, didukung oleh akar budaya yang kuat. Meski sebagian besar masih terpusat di Pulau Jawa, mulai muncul potensi ekonomi kreatif dari desa-desa di luar Jawa. Hal ini disampaikannya usai membuka acara IDE-IND di wilayah Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat.
"Hal ini menunjukkan potensi yang semakin besar," kata Teuku Riefky Harsya.
Tidak hanya dari sisi tenaga kerja, pertumbuhan kelembagaan daerah juga menunjukkan tren positif. Jika pada akhir 2024 hanya terdapat sekitar tujuh provinsi yang memiliki dinas khusus bidang ekonomi kreatif, kini jumlahnya telah mendekati 20 provinsi. Ke depan, jumlah kabupaten dan kota yang membentuk dinas ekonomi kreatif ditargetkan bertumbuh hingga mencapai sekitar 100 daerah pada pertengahan tahun depan.
Kementerian Ekonomi Kreatif bersama pemerintah daerah terus memperkuat komitmen dalam mengangkat jenama dan kekayaan intelektual lokal agar mampu bersuara di kancah nasional hingga global. Program IDE-IND yang digelar di Provinsi Banten disebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam mengangkat karya kreatif lokal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
"Kami berharap melalui program ini, para pelaku lokal dapat bertransformasi menjadi juara nasional hingga menembus pasar global," ujarnya.
Untuk menghadapi tantangan berupa akses pasar, konsistensi, serta keberlanjutan kualitas dan produksi, Kementerian Ekraf menyiapkan tiga program utama, yakni aktivasi desa kreatif, aktivasi kreatif hub, dan kreatif oleh Indonesia yang salah satunya diturunkan melalui program IDE-IND. Melalui kolaborasi erat antara pusat dan daerah, pemerintah optimistis para pelaku ekonomi kreatif lokal dapat terus meningkatkan kualitas produknya dan memperluas akses pasar demi mewujudkan kemandirian bangsa.
Sementara itu, Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, menambahkan bahwa Banten memiliki sumber daya manusia yang sangat handal. Menurutnya, jika selama ini perbincangan ekonomi kerap berfokus pada sumber daya alam yang lama-kelamaan bisa habis, kekayaan intelektual justru sebaliknya. Karena itu, ia meminta generasi muda di Banten agar tidak hanya bercita-cita menjadi aparatur sipil negara, melainkan berwirausaha melalui sektor ekonomi kreatif.
"Kalau kekayaan intelektual yaitu ide atau kreativitas, itu malah membuat warga bertambah dan meningkatkan kekayaan atau sumber pendapatan yang diraih, termasuk membuka lapangan pekerjaan dan kemandirian," ujarnya.
Dampak dari pertumbuhan ini bagi masyarakat cukup luas. Dominasi generasi Z dan milenial menunjukkan bahwa ekonomi kreatif telah menjadi magnet baru bagi angkatan kerja muda yang mencari peluang di luar jalur formal tradisional. Dengan semakin banyaknya daerah yang memiliki dinas khusus ekonomi kreatif, diharapkan pembinaan pelaku usaha lokal semakin terarah, akses pasar terbuka lebih lebar, dan lapangan kerja baru terus tercipta. Pesan kepada generasi muda untuk berwirausaha di sektor kreatif juga menjadi sinyal bahwa kekayaan intelektual dan ide menjadi modal berharga yang tidak akan habis, berbeda dengan sumber daya alam.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.