Hidupkan Kembali Sejarah: Jalur Teh Kuda Kuno China Kini Jadi Primadona 'Slow Travel' Dunia

AI Gemini 22 January 2026 Nasional (AI) Edit
Berita
Kecintaan pada dunia teh yang kompleks bersemi di hati Antonio, seorang ekspatriat asal Spanyol, setelah bertahun-tahun tinggal di China. Ketertarikan mendalam itu muncul saat ia menjelajahi keindahan Provinsi Yunnan di barat daya China.

Kini, di setiap waktu luangnya, Antonio tak jarang memandu wisatawan Eropa menyusuri Jalur Teh Kuda kuno, sebuah rute perdagangan berusia ribuan tahun. Perjalanan ini bukan sekadar wisata, melainkan sebuah eksplorasi mendalam persimpangan budaya teh dan kopi yang terukir di sepanjang jalur bersejarah tersebut.

Dahulu kala, jalur ini merupakan denyut nadi yang menghubungkan pegunungan teh di China barat daya dengan Dataran Tinggi Tibet dan berbagai wilayah lainnya. Selama berabad-abad, Jalur Teh Kuda adalah koridor yang ramai oleh karavan-karavan yang menukarkan teh dengan kuda. Meski kini derap langkah kuda dan bunyi lonceng karavan telah memudar, jalur ini telah bertransformasi menjadi destinasi unggulan untuk 'slow travel' – sebuah konsep perjalanan wisata yang lambat, mendalam, dan kaya akan pengalaman budaya.

Sisa-sisa tradisi karavan kuno masih terasa kuat, terutama dalam ranah kuliner lokal. Di berbagai daerah penghasil teh di Yunnan, tak sedikit restoran yang menyajikan "Hidangan Karavan Baru". Sebut saja iga berlapis kopi atau daging sapi beraroma teh, perpaduan unik yang menggabungkan kisah keras jalur perdagangan dengan sentuhan kreativitas kuliner modern.

Pariwisata di wilayah ini juga semakin bersifat partisipatif. Qu Shishuai, seorang wisatawan dari Hangzhou, China timur, baru-baru ini menghabiskan liburannya di sebuah sanggar pembuatan teh tradisional. Di sana, ia menyelami proses pembuatan teh kuno, mulai dari pelayuan, penggulungan, pemadatan, hingga pengeringan. "Saya tidak hanya mempelajari sebuah keterampilan, tetapi juga membawa pulang kue teh buatan saya sendiri," ujar Qu Shishuai.

Lebih jauh ke utara, di Kota Kuno Shaxi, Dali, jejak tapal kuda kuno masih jelas terukir di jembatan-jembatan batu. Namun, kini jejak itu seolah menuntun pengunjung ke sebuah toko buku modern yang dulunya adalah lumbung padi. Di sana, aroma kopi segar berpadu harmonis dengan alunan lagu rakyat tradisional, menciptakan suasana yang unik.

Pengakuan global terhadap jalur kuno ini semakin menguat pada tahun 2023, saat Lanskap Budaya Hutan Teh Kuno Gunung Jingmai di Pu'er dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pertama yang secara khusus bertema teh.

Di Gunung Jingmai, teh bukan sekadar minuman; ia adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, digunakan dalam berbagai acara mulai dari pesta pernikahan hingga penyelesaian konflik. Akar budaya yang kuat inilah yang menarik gelombang baru wisatawan. Mereka tidak hanya singgah sehari, tetapi memilih menetap selama berbulan-bulan, menikmati pengalaman memetik teh di pagi hari dan menyaksikan keindahan lautan awan dari kafe-kafe di lereng bukit pada sore hari.

Data menunjukkan lonjakan signifikan. Dari Januari hingga November 2025, Provinsi Yunnan mencatat kunjungan lebih dari 4,98 juta wisatawan jangka panjang, sebuah peningkatan hampir 55 persen secara tahunan. Pariwisata berbasis hunian ini telah memberikan napas baru bagi lebih dari 800 desa, menciptakan sekitar 63.500 lapangan kerja lokal, serta meningkatkan rata-rata pendapatan bulanan bagi rumah tangga petani yang terlibat sebesar lebih dari 2.700 yuan (sekitar Rp6,57 juta dengan kurs 1 yuan = Rp2.435).

Daya tarik Jalur Teh Kuda kuno juga semakin memikat wisatawan mancanegara, seiring dengan perluasan kebijakan bebas visa China yang memicu lonjakan pengunjung internasional ke desa-desa terpencil. Mengamati selera internasional, Antonio melihat bagaimana warga setempat mulai beradaptasi, menambahkan menu sarapan ala Barat ke dalam sajian teh tradisional mereka.

Seiring jalur kuno ini bertransformasi menjadi tempat untuk merasakan kehidupan yang lebih santai, kisah tentang keterhubungan terus terajut. Ia tak hanya mengaitkan masa lalu dengan masa kini, tetapi juga China dengan dunia.

Sumber: Baca Selengkapnya
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Gemini . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.