Dunia Berubah: Operasi Militer AS di Venezuela Guncang Geopolitik Global, Perebutan Energi hingga Mineral Langka Memanas!
Awal tahun 2026 tiba dengan gejolak signifikan yang menandai pergeseran keras peta kekuatan dunia, di mana persaingan pengaruh global kini tak lagi tersembunyi, melainkan tampil dalam langkah-langkah nyata yang langsung menyentuh jantung politik dan ekonomi negara lain. Puncak ketegangan terjadi pada 3 Januari 2026, saat Amerika Serikat melancarkan "Operasi Absolute Resolve" dengan dukungan kekuatan udara masif di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro di Caracas. Peristiwa ini segera memicu reaksi politik internasional dan membuka kembali perdebatan tentang batas kedaulatan negara. Kolonel Dedy Yulianto, Analis Madya Bidang Humas Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, menilai insiden Venezuela bukan semata soal rezim, melainkan penegasan bahwa energi—khususnya cadangan minyak mentah terbesar dunia—kembali menjadi inti politik global. Langkah Washington juga dipercaya untuk mengerem laju pengaruh China dan Rusia di Amerika Latin. Di sisi lain, kekosongan kekuasaan di Venezuela berpotensi memicu gelombang migrasi baru serta ketidakpastian ekonomi regional, sementara pasar global bereaksi cepat dengan fluktuasi tajam harga minyak dan kenaikan premi asuransi pelayaran.
Ketegangan geopolitik tak hanya terbatas di daratan. Empat hari berselang, pada 7 Januari 2026, dunia menyoroti penyitaan tanker berbendera Rusia di dekat Islandia, membawa Atlantik Utara menjadi panggung baru persaingan. Jalur laut yang sebelumnya dianggap infrastruktur ekonomi, kini diperlakukan sebagai ruang manuver strategis, memengaruhi rute kapal, pelabuhan singgah, hingga jadwal bongkar muat. Kondisi ini secara langsung berdampak pada Eropa dalam hal pasokan energi dan kelangsungan industri, serta bagi perusahaan pelayaran dengan lonjakan premi asuransi dan jadwal distribusi yang kian sulit diprediksi. Lebih jauh ke utara, perhatian global beralih ke Greenland. Pulau raksasa di kawasan Arktik ini bukan sekadar peta pertahanan rudal, namun menjadi medan perebutan masa depan industri teknologi. Di bawah lapisan esnya tersimpan mineral tanah jarang yang esensial bagi kendaraan listrik, baterai, hingga kontraktor pertahanan, menentukan siapa yang akan menguasai rantai teknologi global dalam dekade mendatang.
Kolonel Dedy Yulianto menggambarkan situasi saat ini, dari Karibia hingga Arktik, sebagai ruang pengawasan terbuka di mana ekonomi dan militer berjalan berdampingan. Jalur-jalur ekonomi mulai dimanfaatkan sebagai instrumen tekanan politik, menambah lapisan ketidakpastian bagi sistem perdagangan internasional yang masih berupaya pulih dari guncangan sebelumnya. Era baru persaingan global ini menunjukkan pergeseran fokus dari minyak dan gas tradisional ke bahan baku teknologi masa depan, seperti mineral langka di Greenland. Hal ini menandakan bahwa negara-negara kini berebut kendali atas fondasi teknologi yang akan membentuk kekuasaan ekonomi dan militer di masa depan. Ketiga peristiwa ini secara kolektif mengindikasikan bahwa dunia sedang memasuki fase geopolitik yang lebih keras dan terbuka, dengan implikasi mendalam bagi keamanan, stabilitas ekonomi, dan arah teknologi global.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.