Tokyo – Kabar kurang menggembirakan datang dari sektor ekonomi Jepang. Negara matahari terbit ini kembali mencatat defisit neraca perdagangan untuk tahun kelima secara berturut-turut pada tahun 2025. Data resmi pemerintah yang dirilis pada Kamis (22/1) menunjukkan total defisit mencapai 2,65 triliun yen, atau setara dengan sekitar Rp280,9 triliun (dengan kurs 1 yen = Rp106), serta sekitar 16,7 miliar dolar AS.
Kementerian Keuangan Jepang melaporkan, meskipun total ekspor pada tahun 2025 sebenarnya mengalami peningkatan 3,1 persen dari tahun sebelumnya, mencapai 110,45 triliun yen, namun angka ini tidak mampu menutupi lonjakan impor. Data menunjukkan impor Jepang tercatat naik 0,3 persen menjadi 113,10 triliun yen.
Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah penurunan pengiriman ekspor ke Amerika Serikat (AS). Untuk kali pertama dalam lima tahun terakhir, ekspor Jepang ke Negeri Paman Sam anjlok, sebuah kondisi yang diduga kuat sebagai imbas dari kenaikan tarif.
Secara lebih rinci, surplus perdagangan Jepang dengan AS pada 2025 menyusut drastis sebesar 12,6 persen dibandingkan setahun sebelumnya, menjadi 7,52 triliun yen. Ekspor ke AS tercatat turun 4,1 persen menjadi 20,41 triliun yen, sementara impor dari AS justru tumbuh 1,6 persen, mencapai 12,89 triliun yen.
Di sisi lain, terdapat secercah harapan dari data perdagangan bulanan. Pada Desember 2025 saja, Jepang berhasil membukukan surplus perdagangan sebesar 105,69 miliar yen. Capaian ini didorong oleh kenaikan ekspor sebesar 5,1 persen menjadi 10,41 triliun yen, yang sedikit diungguli oleh peningkatan impor 5,3 persen menjadi 10,31 triliun yen. Namun, tren positif bulanan ini belum mampu menutupi akumulasi defisit perdagangan tahunan yang sudah berlangsung lama.
Sumber:
Baca Selengkapnya