**Jakarta** – Warga di sejumlah wilayah Aceh kini harus bergelut dengan fenomena debu tebal pasca-bencana banjir. Kondisi ini tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), akhirnya mengungkap akar permasalahan di balik serbuan debu ini: sedimentasi akibat pendangkalan sungai.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani, menjelaskan bahwa tumpukan material sedimentasi inilah yang menjadi biang kerok debu-debu berterbangan saat musim kemarau. "Menjadi perhatian kami juga berkaitan dengan bencana di sana, bisa dikatakan itu lebih kepada debu. Jadi, memang setelah sedimentasi itu kan terjadi debu-debu halus itu ya, sehingga saat musim kemarau ketika kering dia akan tersapu," terang Rasio dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Rasio menambahkan bahwa meskipun pihaknya belum menangani secara khusus, penyiraman rutin menjadi solusi sementara saat musim kering. "Kami belum secara khusus menangani ini, tetapi biasanya kalau kering itu kan seharusnya dilakukan penyiraman, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh tim yang ada di sana," imbuhnya.
Ia melanjutkan, dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagian besar memang diakibatkan oleh pendangkalan sungai. Erosi akibat hujan deras membawa material-material tanah dan lumpur yang mengendap, membuat aliran sungai menjadi dangkal. Partikel-partikel halus inilah yang kemudian menyebar di sekitar permukiman warga, jalan, dan lokasi pengungsian saat mengering.
"Karena adanya erosi, terbawa oleh air, kan hujan ini menghancurkan ya, sehingga terjadi erosi. Kemudian material-materialnya terbawa oleh air, yang juga menyebabkan aliran sungainya itu dangkal. Kemudian partikel-partikel halus ini kan berada di sekitar pemukiman tergenang itu, baik di jalan, pengungsian, dan sebagainya," jelas Rasio.
Selain masalah debu, Rasio juga menyoroti permasalahan lain yang muncul di lokasi pengungsian, yaitu ketersediaan air bersih dan praktik pembakaran sampah. "Selain debu, kami juga melihat ada dampak terkait dengan air bersih, kemudian juga ada masalah sampah, termasuk sampah yang terbawa oleh banjir, maupun sampah selama aktivitas pengungsian," ujar Ridho, menekankan pentingnya koordinasi untuk penanganan menyeluruh.
Menanggapi situasi ini, pihak kepolisian di Aceh Selatan telah bergerak. Polres Aceh Selatan mengerahkan mobil penyemprot air atau *water cannon* untuk membersihkan jalan-jalan protokol dari debu sisa banjir. Tindakan ini merupakan respons langsung terhadap rekomendasi dari petugas kesehatan Polri guna mencegah penyebaran ISPA.
Wakapolres Aceh Selatan Kompol Edwin Aldro menegaskan bahwa upaya ini demi kenyamanan dan kesehatan masyarakat. "Penyiraman dan pembersihan debu ini dilakukan untuk menghilangkan debu di jalan agar masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih nyaman dan sehat. Kehadiran tim di lapangan bertujuan untuk memastikan kualitas udara kembali layak bagi aktivitas warga," kata Edwin.
Seperti diketahui, banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Aceh Selatan memang menyisakan material lumpur tebal. Ketika mengering, lumpur tersebut berubah menjadi debu yang beterbangan setiap kali dilintasi kendaraan, sehingga berisiko tinggi memicu penyakit pernapasan. Fokus penyemprotan dilakukan di jalan protokol, bertujuan menghilangkan tumpukan lumpur kering yang menjadi sumber polusi debu utama di sepanjang jalan-jalan Kabupaten Aceh Selatan.
Sumber:
Baca Selengkapnya