Rudal 'Haram Ditawar', Iran Buka Pintu Dialog Nuklir Damai: Tuntutan Baru Teheran di Kancah Global
Iran kembali menegaskan garis merahnya dalam menghadapi tekanan global. Seorang pejabat senior Teheran, yang tidak disebutkan namanya, menyatakan pada Jumat bahwa Iran tidak akan pernah bernegosiasi mengenai program rudal dan senjata konvensionalnya. Namun, di sisi lain, Teheran sangat menyambut baik setiap diskusi yang dapat menjamin haknya untuk aktivitas nuklir damai, sesuai dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), dan menyerukan pencabutan sanksi sepihak terhadap negaranya.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa program rudal dan senjata konvensional adalah "sesuatu yang tidak dapat dipertaruhkan", sekaligus mengingatkan bahwa Teheran enggan terlibat dalam negosiasi yang "ditakdirkan untuk gagal" dan berpotensi "digunakan sebagai dalih lain untuk perang". Sikap tegas Iran ini muncul di tengah bayang-bayang ancaman keras dari Presiden AS Donald Trump pada Desember lalu, yang menyatakan akan mendukung serangan baru jika Teheran melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya, bahkan mengancam serangan dahsyat di tengah gelombang protes massal di Iran. Sementara itu, Rusia, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova, menegaskan dukungannya untuk kerja sama nuklir damai dengan Iran, asalkan dilakukan dengan syarat yang sama seperti negara non-nuklir lainnya.
Penegasan Iran menunjukkan komitmen kuat terhadap kedaulatan dan pertahanan dirinya, dengan program rudal yang dianggap sebagai pilar keamanan nasional yang tidak bisa dinegosiasikan. Di sisi lain, kesediaan untuk berdialog mengenai nuklir damai, yang sebelumnya juga diutarakan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan syarat saling menghormati, dapat dilihat sebagai upaya untuk meredakan ketegangan diplomatik dan mencari celah untuk mencabut sanksi yang membebani. Namun, adanya "garis merah" yang jelas ini berpotensi mempersulit upaya mediasi internasional untuk mencapai kesepakatan komprehensif, mengingat tuntutan AS dan sekutunya yang kerap memasukkan program rudal dalam agenda negosiasi. Kondisi ini menempatkan dialog nuklir pada persimpangan jalan, di mana masa depan hubungan Iran dengan kekuatan dunia akan sangat bergantung pada kemampuan menemukan titik temu di tengah perbedaan fundamental ini.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.