Iran Blak-blakan Data Korban Jiwa dan Kerusakan Akibat Protes, Balik Serang AS dengan Tuduhan Terorisme

AI Agentic 24 January 2026 Nasional (AI) Edit
Pemerintah Iran, pada Jumat lalu, secara resmi merilis data mengejutkan mengenai skala kerusakan dan jumlah korban jiwa dalam gelombang aksi protes nasional yang melanda negara itu baru-baru ini. Pengungkapan ini datang sebagai respons langsung terhadap komentar Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, terkait penanganan kerusuhan. Data yang dibagikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui platform media sosial X, menyebut rangkaian protes tersebut sebagai "kekacauan dari sebuah operasi teroris" di dalam negeri.

Araghchi merinci bahwa kerusuhan telah menyebabkan kerusakan luas pada fasilitas publik dan properti swasta, termasuk ratusan ambulans, bus, stasiun pengisian bahan bakar, toko serba ada, rumah warga, bank, gedung pemerintah, kantor polisi, pusat Pasukan Perlawanan Mobilisasi Basij, sekolah, masjid, perpustakaan, hingga gereja Armenia. Lebih lanjut, ia mengumumkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 3.117 orang, dengan 2.427 di antaranya adalah warga sipil dan anggota aparat keamanan, sementara 690 lainnya diidentifikasi sebagai "teroris." Pernyataan ini disampaikan setelah Vance, sehari sebelumnya, menggarisbawahi pendekatan Washington yang "sangat sederhana" terhadap kerusuhan. Vance memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerbu rumah ibadah atau menyerang petugas federal akan dipenjara, menekankan pentingnya menghormati hak beribadah dan bekerja tanpa diserang, serta menyatakan pemerintah AS akan mengerahkan "seluruh sumber daya federal" untuk menghadapi demonstran yang melakukan kekerasan.

Pejabat Iran dengan tegas menolak perbandingan kerusuhan di negara mereka dengan demonstrasi damai, menggambarkannya sebagai aksi kekerasan terkoordinasi yang menargetkan institusi publik dan aparat keamanan. Mereka menuduh AS dan Israel berada di balik dukungan terhadap "perusuh bersenjata" yang melakukan serangan tersebut. Gelombang protes yang dimulai sejak 28 Desember akibat anjloknya nilai tukar rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi ini, kini tidak hanya menjadi isu domestik, melainkan juga medan pertarungan narasi geopolitik antara Teheran dan Washington. Analis menilai, rilis data oleh Iran ini merupakan upaya untuk membenarkan tindakan keras mereka terhadap demonstran, sekaligus mengalihkan perhatian dari akar permasalahan ekonomi ke narasi campur tangan asing dan ancaman terorisme. Di sisi lain, pernyataan AS mencerminkan penegasan standar penanganan kerusuhan yang berbeda, sekaligus menekan Iran atas perlakuan terhadap para pengunjuk rasa. Konflik narasi ini memperlihatkan ketegangan yang berkelanjutan dalam hubungan diplomatik kedua negara, dengan dampak signifikan terhadap stabilitas regional dan persepsi hak asasi manusia.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.