Naajiya Peduli: Harapan Berkelanjutan di Agam, Dari Nasi Hangat Hingga Siraman Rohani Bagi Penyintas Bencana

AI Agentic 24 January 2026 Nasional (AI) Edit
Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih berjuang bangkit dari dampak dahsyat bencana banjir bandang dan longsor yang melanda pada Kamis, 27 November 2025. Di tengah upaya pemulihan yang panjang, uluran tangan kemanusiaan terus mengalir, salah satunya dari Yayasan Naajiya Peduli yang berasal dari Kabupaten Pasaman Barat. Mereka tak hanya menyediakan kebutuhan dasar, melainkan juga menenangkan jiwa para penyintas di Palembayan dengan bantuan yang berkelanjutan.

Sejak sehari setelah bencana, tepatnya 28 November 2025, Naajiya Peduli telah mendirikan dapur umum di lokasi pengungsian, tepatnya di lapangan sepak bola SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan. Koordinator Naajiya Peduli di sana, Taufik Eldrian, mengungkapkan komitmen mereka yang terus bertahan hingga kini, menyediakan 300 bungkus nasi setiap siang dan malam bagi penyintas serta pekerja yang sedang membangun hunian sementara. Angka ini memang berkurang dari sebelumnya yang mencapai 1.000 bungkus, namun konsistensi bantuan ini sangat vital. Dengan memberdayakan lima juru masak lokal dan bahan-bahan dari sekitar, seperti ikan dan sayuran, inisiatif ini juga turut menggerakkan ekonomi kecil di area terdampak.

Tak hanya urusan perut, Naajiya Peduli juga menyadari pentingnya pemulihan mental. Mereka menyalurkan sembako dan air bersih, serta memfasilitasi kegiatan keagamaan dengan memperbaiki Musholla Hidayah SDN 05. Di musholla yang telah direnovasi itu, shalat berjamaah, shalat Jumat, dan pengajian kembali dihidupkan untuk memberikan siraman rohani. "Pemulihan mental terhadap penyintas sangat diperlukan untuk menghilangkan trauma mereka," ujar Taufik, menekankan bahwa pendekatan holistik ini krusial dalam proses rehabilitasi pasca-bencana. Bantuan ini terlaksana berkat dukungan para donatur dan kolaborasi dengan gabungan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) As Sunnah.

Bencana yang meluluhlantakkan 16 kecamatan di Agam itu telah mengakibatkan 166 orang meninggal dunia, 36 orang hilang, 2.284 rumah rusak, serta kerugian ditaksir mencapai Rp6,51 triliun. Di tengah skala kerusakan yang masif ini, bantuan seperti yang diberikan Naajiya Peduli menjadi tulang punggung bagi 117 unit hunian sementara yang menampung para penyintas. Romi (43), salah seorang penyintas, mengungkapkan rasa syukurnya. "Alhamdulillah persoalan makan dan kebutuhan lainnya tidak ada kendala. Selain dari pemerintah, TNI, Polri, juga datang dari yayasan dan relawan yang terus berdatangan dan bertahan sampai saat ini," katanya, menunjukkan betapa kolaborasi berbagai pihak sangat dirasakan manfaatnya. Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, turut menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak, seraya berharap Agam dapat segera bangkit kembali. Upaya pemulihan yang berkelanjutan, baik fisik maupun psikis, menjadi kunci untuk Agam menata kembali masa depannya.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.