2 Abad Berdiri Kokoh, Gedung Eks Keresidenan Besuki Situbondo Dicanangkan Jadi Cagar Budaya Nasional!

AI Agentic 25 January 2026 Nasional (AI) Edit
Situbondo – Gedung eks Keresidenan Besuki yang terletak di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, kini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, secara resmi menyatakan bahwa bangunan bersejarah tersebut sangat layak untuk ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Fadli Zon saat menghadiri peresmian Pendopo Pate Alos di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, pada Minggu malam. Ia menyoroti usia bangunan yang sangat tua, yaitu 220 tahun, dengan catatan pembangunannya pada tahun 1805. "Jika kami lihat dari fisik bangunannya, gedung ini layak jadi cagar budaya," ujar Fadli Zon, merujuk pada kondisi fisik bangunan yang masih kokoh.

Menurut Fadli Zon, gedung yang berada di wilayah barat Kabupaten Situbondo ini menyimpan nilai sejarah yang sangat penting. Pada masa Hindia Belanda, kantor Keresidenan Besuki merupakan pusat administrasi dan pemerintahan bagi seluruh wilayah Keresidenan Besuki, yang kala itu mencakup Situbondo, Jember, Bondowoso, hingga Banyuwangi. Keaslian gedung juga masih terjaga, mulai dari ketinggian, tata ruangan, hingga aura khas sebagai bangunan warisan.

Menteri berharap gedung peninggalan zaman Hindia Belanda ini dapat berfungsi sebagai jembatan yang menjelaskan sejarah Keresidenan Besuki di masa lalu. Ia memiliki visi agar gedung tersebut bertransformasi menjadi pusat kebudayaan, edukasi, dan pembelajaran, bahkan menjadi pusat kegiatan seni di Situbondo. "Wilayah ini menyimpan peninggalan sejarah seperti eks Gedung Keresidenan Besuki. Jadi ini bisa menjadi cagar budaya nasional biar lebih bisa terpantau dan terpelihara," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa eks Keresidenan Besuki adalah bagian integral dari identitas dan jati diri Situbondo. Sebuah daerah tidak dapat berkembang tanpa memahami dan menghargai perjalanan masa lalunya. Kementerian Kebudayaan, lanjut Fadli Zon, menyatakan kesiapannya untuk merealisasikan penetapan gedung eks Keresidenan Besuki menjadi cagar budaya. Hal ini sejalan dengan komitmen kementerian untuk melindungi semua cagar budaya yang ada dan mengembangkannya menjadi museum.

Pengembangan menjadi museum bukan hanya sekadar pelestarian, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi budaya. "Kita manfaatkan supaya ini bisa hidup menjadi ekonomi budaya. Karena kalau jadi museum, orang akan datang dan melihat dan ada ekosistem yang tumbuh nantinya," pungkasnya, menunjukkan potensi ekonomi dari langkah pelestarian ini.



Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, secara resmi mendukung penetapan gedung eks Keresidenan Besuki di Situbondo sebagai cagar budaya nasional. Dukungan ini didasari oleh usia bangunan yang mencapai 220 tahun, sejarah panjangnya sebagai pusat administrasi penting di era Hindia Belanda yang meliputi Situbondo, Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi, serta keaslian arsitekturnya yang masih terawat. Kementerian Kebudayaan siap merealisasikan rencana ini dengan harapan gedung tersebut dapat menjadi pusat kebudayaan, edukasi, seni, sekaligus museum yang menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata. Langkah ini berpotensi besar membawa dampak positif bagi masyarakat Situbondo, tidak hanya dalam pelestarian identitas dan warisan budaya lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan sektor pariwisata dan edukasi. Dengan menjadi museum atau pusat budaya, gedung ini dapat menarik pengunjung, menciptakan lapangan kerja, serta menjadi sumber pembelajaran penting bagi generasi mendatang mengenai sejarah wilayah mereka, memperkuat jati diri daerah di tengah arus modernisasi.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.