Jakarta – Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, Yusharto Huntoyungo, secara tegas menyatakan bahwa hilirisasi riset menjadi kunci utama dalam upaya penguatan inovasi di berbagai daerah. Penekanan ini disampaikan Yusharto saat memberikan paparan dalam kegiatan "Evaluasi dan Penguatan Inovasi Daerah Kota Surakarta", Kamis lalu.
Menurut Yusharto, konsep hilirisasi inovasi ini memiliki tujuan mulia. "Hilirisasi inovasi ini menjadikan pemerintah daerah diharapkan menjadi off taker dari inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Dengan begitu, hasil riset tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi dapat diterapkan menjadi inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat," terang Yusharto di ruang konferensi video BSKDN, Jakarta.
Yusharto melihat potensi besar yang dimiliki Kota Surakarta dalam hal inovasi. Kota tersebut didukung oleh keberadaan berbagai perguruan tinggi terkemuka, salah satunya Universitas Sebelas Maret (UNS), serta lembaga riset yang secara konsisten menghasilkan kajian dan penelitian berkualitas. Oleh karena itu, sinergi antara perangkat daerah dan perguruan tinggi harus diperkuat. Tujuannya agar hasil riset dapat segera diadopsi menjadi solusi konkret untuk berbagai permasalahan layanan publik di daerah.
Ia menambahkan, setiap fakultas dan pusat kajian di perguruan tinggi memiliki potensi untuk berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) sesuai dengan urusan pemerintahan yang diampunya. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan terobosan yang relevan dan aplikatif.
Meski demikian, Yusharto tidak menampik adanya tantangan, terutama terkait pendanaan inovasi nasional yang masih terbatas. Data menunjukkan, anggaran riset Indonesia saat ini berada di angka 0,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan anggaran riset dan inovasi dinilai sebagai momentum penting untuk mendorong kualitas dan keberlanjutan inovasi ke depan.
Selain pendanaan dan hilirisasi, pembudayaan inovasi juga menjadi fokus utama. Yusharto mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil oleh Kota Surakarta, seperti penyelenggaraan kompetisi inovasi, pemberian insentif, serta berbagai bentuk penguatan ekosistem inovasi yang berhasil mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.
Lebih lanjut, Yusharto menegaskan bahwa inovasi daerah harus dilakukan secara berkelanjutan. Ia mengibaratkan inovasi mengikuti prinsip kurva S, di mana pembaharuan perlu dimulai ketika inovasi masih berada pada fase pertumbuhan agar keberlanjutannya tetap terjaga.
"Dengan demikian, diharapkan inovasi yang ada dapat terus dipertahankan dan terus bisa dilakukan pembaharuan sehingga tidak sekadar tercatat secara administratif semata, tetapi memang benar-benar dapat diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat," ujarnya.
Dengan capaian inovasi yang terus meningkat, Yusharto optimis Kota Surakarta mampu memperkuat perannya sebagai daerah terinovatif. Ini sekaligus menjadi contoh praktik baik dalam hilirisasi riset dan pemanfaatan inovasi perguruan tinggi untuk mendukung pembangunan daerah.
"Seperti yang sudah disampaikan, inovasi Kota Surakarta mengalami peningkatan di tahun 2025 menjadi daerah terinovatif. Saya berharap ke depannya semangat berinovasi terus ada dan semakin baik membawa perubahan di Kota Surakarta," tuturnya penuh harap.
Sumber:
Baca Selengkapnya