Indo-Pasifik Memanas: Saat Intervensi AS Berkurang, RI Hadapi Tantangan Baru Sekaligus Peluang Besar
Dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik mengalami perubahan signifikan seiring dengan berkurangnya intervensi Amerika Serikat. Kondisi ini menciptakan tantangan sekaligus peluang strategis bagi Indonesia. Pergeseran besar ini menandai perubahan tektonik dalam arsitektur keamanan regional, demikian diungkapkan oleh Kepala Pusat Studi Maritim Seskoal, Laksamana Pertama TNI Salim.
Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis lalu, Salim menjelaskan bahwa persaingan antara Amerika Serikat dan China kini bukan lagi isu diplomatik biasa, melainkan sebuah perubahan fundamental yang akan menentukan stabilitas kawasan. Ia menyoroti bahwa Indo-Pasifik telah mengalami transformasi mendalam, terutama sejak masa pemerintahan Presiden Donald Trump, di mana keterlibatan AS mulai selektif dan cenderung kritis terhadap aliansi serta multilateralisme. Perubahan ini membawa implikasi besar terhadap lingkungan keamanan regional, termasuk dalam perumusan posisi strategis dan strategi pertahanan Indonesia.
Salim memaparkan lebih lanjut tentang dampak penarikan sebagian kekuatan AS terhadap lanskap strategis di Indo-Pasifik. Ia menyebutkan bahwa pelonggaran kebijakan luar negeri Washington telah membentuk ulang lingkungan keamanan, di mana keterlibatan multilateral tradisional Amerika Serikat telah berkurang. Situasi ini menciptakan potensi kekosongan keamanan maritim dan membuka peluang bagi kekuatan lain, khususnya China, untuk meningkatkan pengaruhnya. Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan jalur laut strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, berada tepat di pusat dinamika ini.
Menurut Salim, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi Indonesia untuk meninjau ulang strategi keamanan nasionalnya. Ia menegaskan bahwa Indonesia bergerak menuju postur pertahanan yang lebih mandiri, melalui upaya penyeimbangan internal yang melibatkan penguatan pertahanan nasional, multilateralisme, serta kemitraan strategis. Melemahnya peran tradisional AS sebagai penjamin keamanan dan jangkar kelembagaan kawasan, akibat komitmen yang berkurang pada kerangka multilateral, telah memicu kekhawatiran di tengah meningkatnya sikap agresif China di Laut China Selatan.
Bagi Indonesia, berkurangnya kehadiran AS memicu tantangan sekaligus peluang strategis. Kondisi ini mendorong Jakarta untuk memperdalam kerja sama regional, terutama melalui kerangka ASEAN, dan memperkuat kemampuan pertahanan nasionalnya. Perubahan ini juga menegaskan kembali fokus Indonesia pada sentralitas ASEAN dan multilateralisme sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas kawasan. Namun, Salim juga mengingatkan bahwa perubahan kebijakan AS ini membawa tantangan baru, termasuk potensi persaingan sumber daya yang kian intensif, seperti hidrokarbon dan perikanan di regional.
Secara keseluruhan, berkurangnya intervensi Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik telah menciptakan pergeseran kekuatan geopolitik yang signifikan, menempatkan Indonesia di garis depan tantangan sekaligus peluang strategis. Situasi ini memaksa Indonesia untuk memperkuat otonomi strategisnya melalui peningkatan kapasitas pertahanan nasional dan penguatan kerja sama regional, terutama melalui ASEAN. Dampaknya bagi masyarakat sangat terasa, mulai dari stabilitas keamanan maritim yang memengaruhi jalur perdagangan dan harga komoditas, potensi perebutan sumber daya laut seperti ikan dan energi yang langsung bersinggungan dengan mata pencaharian nelayan dan ketersediaan energi, hingga pada akhirnya menentukan kedaulatan bangsa dan perdamaian di wilayah yang strategis ini.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.