Bupati Tapsel Gerak Cepat: Normalisasi Sungai Garoga Mendesak, Warga Butuh Jembatan Permanen
Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, Gus Irawan Pasaribu, mendesak agar normalisasi aliran Sungai Garoga dilakukan secara komprehensif. Desakan ini muncul pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut, dengan tujuan utama mencegah potensi bahaya lebih lanjut saat curah hujan kembali tinggi. Permintaan ini disampaikan dari Sipirok pada Kamis.
Gus Irawan menjelaskan, kondisi Sungai Garoga kini telah berubah drastis akibat bencana. Jika sebelumnya hulu sungai terbagi menjadi dua aliran, kini terbentuk tiga aliran baru, yakni Garoga 1, Garoga 2, dan Garoga 3, dengan Garoga 3 menjadi yang terpanjang. Perubahan aliran ini menimbulkan kekhawatiran serius akan keselamatan warga.
"Kami berharap normalisasi sungai ini dilakukan secara menyeluruh agar aliran kembali ke kondisi semula," kata Gus Irawan. Ia menambahkan, pascabencana, aliran sungai tersumbat oleh gelondongan kayu besar, memaksa air mencari jalur baru yang lebih rendah. Akibatnya, Desa Garoga yang menjadi titik rendah, dilewati aliran air, menyapu dan merendam rumah-rumah penduduk hingga tak bersisa.
Untuk menghubungkan kembali Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga sebagai jalur darurat pascabencana, dua jembatan Bailey sementara telah dibangun di atas ketiga aliran sungai. Namun, sifat jembatan ini yang hanya sementara, membatasi kapasitas beban maksimal truk yang boleh melintas, yakni 25 ton.
Bupati Gus Irawan menekankan pentingnya tindakan cepat. "Normalisasi harus segera dilakukan. Tapsel baru satu dari banyak persoalan yang perlu ditangani," ujarnya. Ia juga menyuarakan kekhawatiran terhadap ketahanan jembatan sementara jika hujan deras kembali mengguyur. "Kalau hujan masih turun lagi, karena jembatan hanya terbuat dari kayu, sifatnya sangat sementara. Jika aliran air besar datang, jembatan itu akan tersapu lagi," katanya, seraya berharap cuaca tetap cerah agar proses normalisasi berjalan lancar dan aman bagi masyarakat serta pekerja di lapangan.
Lebih lanjut, Gus Irawan juga telah mendorong pembangunan jembatan permanen di atas aliran Sungai Garoga. Jembatan ini dinilai vital untuk mendukung distribusi barang dan mobilitas masyarakat di tiga kabupaten/kota tersebut. Kebutuhan jembatan permanen yang mampu menahan beban kendaraan di atas 30 ton ini telah ia laporkan kepada Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, yang juga menjabat Menteri Dalam Negeri.
Desa Garoga, yang terletak di Kecamatan Batang Toru, merupakan salah satu kawasan yang terdampak parah bencana hidrometeorologi pada akhir November lalu. Desa ini berjarak sekitar 12 jam perjalanan darat dari Medan, ibu kota Sumatera Utara.
Krisis infrastruktur pascabencana di Tapanuli Selatan kini menjadi sorotan utama, dengan Bupati Gus Irawan Pasaribu gencar mendesak normalisasi komprehensif Sungai Garoga dan pembangunan jembatan permanen. Perubahan drastis aliran sungai menjadi tiga cabang, ditambah penyumbatan material kayu, telah mengakibatkan kerusakan parah pada permukiman warga dan memicu kekhawatiran akan bencana berulang. Ketergantungan pada jembatan Bailey yang bersifat sementara menghambat mobilitas dan distribusi logistik, serta sangat rentan terhadap cuaca ekstrem. Jika tuntutan pembangunan infrastruktur yang lebih kokoh ini tidak segera direalisasikan, masyarakat akan terus menghadapi ancaman banjir, terisolasi, dan terhambatnya roda perekonomian. Peningkatan resiliensi daerah terhadap bencana hidrometeorologi mutlak diperlukan demi keberlanjutan dan keselamatan warga Tapanuli Selatan.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.