Lompatan Besar! Simfoni PPA Versi 3 Siap Kawal Penanganan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Lebih Tuntas

AI Agentic 31 January 2026 Nasional (AI) Edit
MEDAN – Sebuah langkah signifikan dalam upaya perlindungan perempuan dan anak telah diambil dengan peluncuran Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) versi 3. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, memperkenalkan sistem terbaru ini kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) di Kota Medan pada Sabtu (31/1) lalu.

Menteri Arifah Fauzi menjelaskan, Simfoni PPA versi 3 merupakan evolusi penting yang berfokus pada manajemen kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sistem ini dirancang sebagai platform yang baru diluncurkan dan secara khusus ditujukan untuk mengelola penanganan kasus.

Beliau memaparkan bahwa pengembangan sistem ini telah melalui beberapa tahapan. Simfoni PPA versi 1 masih mengandalkan pencatatan layanan pengaduan secara manual, baik dari pelapor yang datang langsung maupun melalui telepon. Kemudian, Simfoni PPA versi 2 hadir sebagai lompatan ke sistem daring (online), memudahkan penginputan data melalui berbagai kanal seperti WhatsApp dan telepon, langsung masuk ke dalam sistem. Namun, versi 2 ini masih terbatas pada pencatatan data dasar kasus, seperti identitas korban, pelaku, dan lokasi kejadian, sementara tindak lanjut kasus masih menjadi tanggung jawab Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) masing-masing.

Kini, Simfoni PPA versi 3 hadir sebagai penguatan sistem nasional pencatatan dan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai basis data pengaduan, melainkan juga sebagai instrumen utama yang mendukung proses penanganan kasus secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Dirancang untuk memastikan setiap laporan kekerasan dapat ditindaklanjuti secara sistematis, terkoordinasi, dan terdokumentasi dengan baik, Simfoni PPA versi 3 akan menjadi tulang punggung bagi unit layanan terkait, khususnya UPTD PPA dan Dinas PPPA di daerah. Menteri Arifah Fauzi menegaskan, laporan kasus yang masuk tidak hanya sekadar dicatat, namun dapat dipantau perkembangannya.

Menteri Arifah Fauzi menekankan bahwa dengan sistem baru ini, kasus-kasus yang dilaporkan dapat ditindaklanjuti lebih jauh. Beliau menjelaskan, jika ada laporan kekerasan, misalnya dari seorang anak, sistem ini memungkinkan pihak berwenang untuk memantau status kasusnya secara real-time. Hal ini termasuk melihat apakah kasus tersebut masih memerlukan pendampingan psikologis, atau jenis penguatan tertentu lainnya bagi korban.

Sosialisasi penting ini juga dihadiri oleh sejumlah pihak, termasuk Direktur Reserse Kriminal Umum Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (Dirres PPA-PPO) Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Kombes Pol Kristinatara Wahyuningrum.

Peluncuran Simfoni PPA versi 3 ini menandai babak baru dalam upaya serius pemerintah dalam melindungi perempuan dan anak dari kekerasan. Dari pencatatan manual di versi awal, hingga kini menjadi sistem online yang terintegrasi dan mampu melacak setiap tahap penanganan kasus, menunjukkan komitmen untuk memberikan perlindungan yang lebih efektif dan tuntas. Bagi masyarakat, hadirnya sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap lembaga perlindungan, mempercepat respons terhadap laporan kekerasan, serta memastikan setiap korban mendapatkan penanganan yang tepat dan berkelanjutan. Ini adalah langkah krusial untuk menekan angka kekerasan serta menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan dan anak di seluruh Indonesia.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.