Terobosan Ekonomi! Pemerintah Siapkan Dana Rp90 Triliun untuk Angkat Industri Padat Karya, Tekstil Jadi Target Utama

AI Agentic 05 February 2026 Nasional (AI) Edit
Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan menyiapkan alokasi dana hingga 6 miliar dolar Amerika Serikat, atau setara lebih dari Rp90 triliun, untuk merevitalisasi industri padat karya. Fokus utama program ini adalah sektor tekstil, yang akan didukung melalui skema pendanaan bersama (co-invest dan/atau co-financing).

Pengumuman penting ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 di Jakarta, Kamis malam. Airlangga menjelaskan bahwa Presiden Joko Widodo telah menyetujui inisiatif pemerintah untuk memperbaiki dan mendorong pertumbuhan industri padat karya, khususnya tekstil. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan dana sebesar 6 miliar dolar AS dan kerangka kerja (roadmap) untuk implementasinya pun sudah ada.

Saat ini, nilai ekspor dari industri terkait tercatat sekitar 4 miliar dolar AS. Namun, pemerintah optimistis angka ini berpotensi meningkat hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan. Peningkatan ini didorong oleh berbagai perjanjian dagang yang telah ditandatangani Indonesia dengan hampir seluruh blok ekonomi utama dunia, baik di Eropa maupun Asia, termasuk Tiongkok. Selain itu, pembicaraan dagang dengan Amerika Serikat juga masih terus berjalan.

Dengan populasi global yang mencapai sekitar 8 miliar jiwa, Airlangga menilai bahwa permintaan terhadap produk sandang dan alas kaki akan tetap tinggi dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa kebutuhan akan pakaian dan sepatu merupakan hal mendasar, sehingga pasar bagi industri padat karya dipandang sangat terbuka.

Meski demikian, pemerintah mencermati adanya persepsi di sektor keuangan yang keliru, yang mengategorikan industri ini sebagai "sunset industry" atau industri yang menurun. Pemerintah menepis pandangan tersebut, dengan mencontohkan sejumlah merek global besar seperti Nike, Adidas, dan Zara yang justru terus mencatatkan pertumbuhan signifikan dan memperluas operasinya.

Oleh karena itu, pemerintah secara aktif mendorong industri jasa keuangan untuk tetap membuka akses pembiayaan yang luas bagi subsektor padat karya, termasuk sepatu, tekstil, garmen, dan furnitur. Airlangga kembali menegaskan bahwa pemerintah akan menyiapkan 6 miliar dolar AS tersebut untuk co-invest atau co-financing, dan formula implementasinya akan segera dibahas lebih lanjut.

Secara global, Indonesia diperkirakan memiliki potensi besar untuk kembali menjadi salah satu pemain utama di industri tekstil, bahkan menempati peringkat kelima dunia. Airlangga mengingatkan bahwa Indonesia sebelumnya pernah berjaya sebagai pemain tekstil terbesar, sebelum terjadi pergeseran orientasi usaha akibat nilai lahan pabrik yang melonjak signifikan dan dialihfungsikan menjadi properti. Namun, ia menekankan pentingnya untuk berinvestasi kembali di sektor ini.

Indonesia juga memiliki keunggulan kompetitif yang kuat. Dari segi biaya energi dan tenaga kerja, Indonesia dinilai lebih efisien dibandingkan Vietnam dan Tiongkok. Dalam hal biaya listrik, Indonesia lebih kompetitif dibanding Tiongkok, Vietnam, maupun Thailand. Bahkan dari segi biaya air, Indonesia juga unggul. Menutup pernyataannya, Airlangga menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak dapat mengembalikan kekuatan di sektor padat karya.

Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, berkomitmen menyuntikkan dana sebesar 6 miliar dolar AS untuk merevitalisasi industri padat karya, khususnya sektor tekstil, yang berpotensi meningkatkan ekspor hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan. Langkah ini diambil untuk menepis persepsi negatif industri tersebut sebagai 'sunset industry' dan memanfaatkan keunggulan kompetitif Indonesia dalam biaya produksi serta jangkauan perjanjian dagang global. Dampak dari inisiatif ini bagi masyarakat diperkirakan sangat signifikan. Dengan revitalisasi industri padat karya, diharapkan akan tercipta lapangan kerja baru yang masif, menyerap tenaga kerja lokal, dan mengurangi angka pengangguran. Kebangkitan sektor ini juga berpotensi menggerakkan roda perekonomian nasional secara keseluruhan, meningkatkan pendapatan devisa negara melalui ekspor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Bagi pekerja, ini berarti stabilitas pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan, sementara bagi konsumen, bisa jadi berimplikasi pada ketersediaan produk lokal berkualitas dengan harga bersaing, serta kebanggaan akan produk "Made in Indonesia" di pasar global.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.