Menguak Kisah Emas dan Memori Merah Kolonial: Pameran 'Crimson Gilt' Ajak Warga Jakarta Selami Sejarah Maritim Dunia

AI Agentic 06 February 2026 Nasional (AI) Edit
Pemerintah Kota Jakarta Utara mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan perjalanan waktu, menyelami kaya dan kompleksnya sejarah maritim Nusantara melalui pameran instalasi seni bertajuk 'Crimson Gilt'. Pameran ini digelar di Museum Bahari Jakarta mulai 7 Februari hingga 7 April 2026.

Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Utara, Fredy Setiawan, menyampaikan bahwa pameran ini dirancang untuk mengajak publik merefleksikan kembali jejak sejarah maritim Nusantara, terutama dalam konteks kolonialisme dan jaringan perdagangan global yang pernah begitu kuat. Selain menikmati instalasi seni yang memukau, pengunjung juga berkesempatan mengikuti Public Artist Talk bersama seniman Vincent Ruijters pada 28 Februari 2026.

Fredy Setiawan juga menuturkan bahwa perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peristiwa kolonialisme yang secara signifikan membentuk dinamika sosial, ekonomi, dan budaya. Kehadiran Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Nusantara pada awal abad ke-17 telah menempatkan wilayah ini sebagai simpul penting dalam jaringan maritim dunia. Pelabuhan Sunda Kelapa, salah satu bukti nyata kejayaan maritim Nusantara, menjadi titik awal transformasi pesisir Jakarta sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan kolonial.

Jalur perdagangan VOC yang mengalirkan rempah dan berbagai komoditas Nusantara ke pasar global, disimbolkan dalam pameran 'Crimson Gilt' melalui dua warna. Warna emas (gilt) melambangkan kemakmuran yang dihasilkan, sementara merah (crimson) menandai memori kolonial yang menyertai perjalanan tersebut. Pemilihan Museum Bahari Jakarta sebagai lokasi pameran dinilai sangat tepat. Bangunan museum ini dulunya merupakan bekas gudang VOC di masa Batavia, menjadikannya saksi bisu aktivitas maritim dan perdagangan kolonial yang turut membentuk wajah Jakarta hingga saat ini.

Pameran 'Crimson Gilt' juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut peringatan 500 tahun Kota Jakarta. Ini menjadi upaya untuk memperkuat peran Jakarta sebagai kota global yang kaya akan sejarah dan terbuka terhadap dialog lintas budaya. Fredy Setiawan mengungkapkan apresiasi kepada Kedutaan Besar Belanda dan seniman Vincent Ruijters atas karya luar biasa yang dihadirkan. Ia berharap pameran ini dapat membuka ruang refleksi mendalam mengenai sejarah, identitas, serta posisi Jakarta dalam jaringan maritim dunia, memberikan manfaat, dan menjadi pelajaran berharga untuk membangun masa depan bangsa.

Di kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Retno Setiowati, menambahkan bahwa pameran ini merupakan bagian dari upaya menempatkan Jakarta sebagai simpul utama dalam sejarah maritim global. Melalui karya seniman Belanda keturunan Indonesia, Vincent Ruijters, pameran ini merefleksikan sejarah bersama yang terkait dengan jaringan perdagangan VOC. Retno Setiowati menekankan bahwa pameran ini menempatkan Jakarta sebagai kota yang aktif membangun dialog lintas negara melalui praktik seni dan kebudayaan kontemporer.

Pameran 'Crimson Gilt' sendiri merupakan proyek kolaborasi tiga negara, menghubungkan Museum Bahari Jakarta di Indonesia, 'Hirado Dutch Trading Post' di Jepang, dan 'Het Scheepvaartmuseum Amsterdam' di Belanda. Sebelum sukses digelar di Hirado, Jepang, dalam rangka perayaan 400 tahun hubungan diplomatik Jepang-Belanda, pameran ini juga dijadwalkan akan dipamerkan di Amsterdam pada September 2026. Momentum pameran ini, yang juga menjadi bagian dari perayaan menuju HUT ke-500 Kota Jakarta, diharapkan mampu mendorong refleksi publik yang lebih luas terhadap warisan kolonial dan kemaritiman bangsa, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sejarah dalam membentuk masa depan.

Secara keseluruhan, Pemerintah Kota Jakarta Utara melalui Pameran instalasi seni 'Crimson Gilt' mengundang masyarakat untuk menjelajahi kembali sejarah maritim Nusantara yang kaya, khususnya keterkaitannya dengan era kolonialisme dan jaringan perdagangan global. Pameran yang berlangsung dari 7 Februari hingga 7 April 2026 di Museum Bahari Jakarta ini secara simbolis menggunakan warna emas untuk kemakmuran dan merah untuk memori kolonial, merefleksikan peran VOC dan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai titik krusial. Melalui kolaborasi dengan seniman Vincent Ruijters dan institusi dari Jepang serta Belanda, acara ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari perayaan menuju HUT ke-500 Kota Jakarta, menegaskan posisi kota ini sebagai pusat dialog budaya dan maritim global. Dampaknya bagi masyarakat diharapkan akan sangat signifikan, yakni meningkatkan kesadaran historis dan identitas kebangsaan, memicu refleksi kritis terhadap warisan kolonial, serta menginspirasi dialog lintas budaya untuk membangun masa depan yang lebih baik berdasarkan pemahaman mendalam akan masa lalu. Pameran ini juga berpotensi memperkuat citra Jakarta sebagai kota global yang menghargai sejarahnya sekaligus terbuka terhadap inovasi seni kontemporer.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.