Karangetang Bergemuruh! Aktivitas Vulkanik Meningkat, Warga Sitaro Diimbau Waspada
Pulau Siau, Sulawesi Utara – Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan. Suara gemuruh dari gunung api ini dilaporkan terdengar hingga pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yang berlokasi di Desa Salili, Kecamatan Siau Tengah.
Berdasarkan evaluasi terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), khususnya dari laporan Badan Geologi untuk periode 16 hingga 31 Januari 2026, kondisi visual kawah utama (selatan) belum menunjukkan adanya guguran material atau erupsi efusif yang kasat mata. Namun, asap kawah terpantau membumbung hingga ketinggian maksimum 150 meter di atas puncak.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa meski demikian, suara gemuruh kadang kala terdengar jelas di pos PGA. Untuk kawah utara, asap putih sedang hingga tebal juga teramati dengan ketinggian maksimum yang serupa, yakni 150 meter di atas puncak. Meski sinar api pada kolom asap tidak tampak, aktivitas guguran lava masih terus terjadi di lereng gunung.
Dalam periode dua mingguan tersebut, Badan Geologi mencatat sejumlah aktivitas kegempaan. Terjadi 638 kali gempa embusan, 17 kali tremor harmonik, dan 77 kali tremor nonharmonik. Selain itu, terekam juga satu kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali gempa vulkanik dangkal, delapan kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa tektonik lokal, dan 89 kali gempa tektonik jauh.
Meskipun data kegempaan menunjukkan penurunan dibandingkan minggu sebelumnya, terutama untuk gempa embusan, intensitas aktivitas vulkanik Karangetang tetap tergolong tinggi. Energi Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) dari stasiun Areng Kambing juga belum menunjukkan peningkatan signifikan, dengan grafik yang terpantau konstan.
Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang diminta untuk selalu mewaspadai potensi awan panas guguran. Ancaman ini muncul dari kubah lava lama yang masih berada di puncak dan sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava baru. Karakteristik awan panas guguran di Gunung Karangetang umumnya terjadi dari penumpukan material lava yang gugur atau longsor. Selain itu, warga juga diimbau untuk waspada terhadap kejadian lahar dingin saat hujan deras mengguyur puncak gunung.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama di bulan Desember 2025, tercatat aktivitas kegempaan yang lebih tinggi. Saat itu, terekam 1.980 kali gempa embusan, 28 kali gempa guguran, 141 kali tremor harmonik, dan 66 kali tremor nonharmonik. Gempa frekuensi rendah juga sempat terekam satu kali, diikuti 25 kali gempa hybrid atau fase banyak, 30 kali gempa vulkanik dangkal, 62 kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa terasa pada skala MMI - I, dan 52 kali gempa tektonik jauh.
Secara ringkas, Gunung Karangetang terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang dinamis dengan suara gemuruh yang terdengar hingga pos pengamatan, diiringi guguran lava dan berbagai jenis kegempaan, meskipun ada sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini membawa potensi ancaman nyata bagi masyarakat di sekitarnya, terutama risiko awan panas guguran dan lahar dingin. Kesiapsiagaan dan pemahaman akan peta jalur evakuasi menjadi sangat krusial, mengingat potensi dampak yang bisa mencakup kerusakan infrastruktur hingga ancaman jiwa, mengharuskan warga untuk selalu memantau informasi resmi dari otoritas terkait.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.