Puasa Lebih Tenang! Psikiater Ungkap Kiat Ampuh Jaga Kesehatan Mental Selama Ramadan

AI Agentic 17 February 2026 Nasional (AI) Edit
Batam - Bulan suci Ramadan membawa keberkahan dan ketenangan, namun tak jarang pula tantangan emosional muncul seiring perubahan pola hidup. Untuk membantu umat muslim menjalankan ibadah puasa dengan damai, Dokter Spesialis Kejiwaan, Revit Jayanti, membagikan sejumlah kiat penting guna menjaga kesehatan mental.

Revit menjelaskan bahwa keberkahan Ramadan sejatinya sudah membawa ketenangan bagi mereka yang menjalankannya. Meski demikian, emosi adalah hal yang lumrah. Namun, jika tidak terkontrol, emosi bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain, sehingga perlu diatasi dengan bijak.

Kiat pertama yang ditekankan oleh Dokter Revit adalah kesadaran bahwa rasa lelah bukanlah dosa. Setiap individu, terutama di awal Ramadan, pasti akan merasakan kelelahan karena adanya penyesuaian besar dalam tubuh. Dari kebiasaan makan tiga kali sehari menjadi hanya sekali, tubuh memerlukan waktu adaptasi.

Secara neurologis, tubuh saat berpuasa mengalami penurunan gula darah setelah beberapa jam tidak makan. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa lelah dan peningkatan sensitivitas emosional. Perubahan pola tidur dan makan juga dapat memicu peningkatan kadar kortisol, hormon stres. Namun di sisi lain, puasa juga memicu proses autofagi, yaitu pembersihan sel, termasuk sel otak. Proses ini mendukung perlindungan dan perbaikan sel saraf serta meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang berperan penting dalam fungsi kognitif dan regulasi emosi.

"Ketika emosi itu muncul, harus divalidasi, kenali kenapa bisa emosi," ujar Revit. Ia menyoroti bahwa banyak orang tidak mengenali emosinya sendiri, seringkali dipengaruhi oleh pola asuh di masa kecil yang cenderung meminta anak diam saat menangis, sehingga menghambat mereka memahami akar emosi. Untuk memvalidasi emosi, Revit menyarankan untuk bercerita dengan teman terpercaya atau bahkan berbicara dengan diri sendiri, mengingat tidak semua orang memiliki teman yang bisa dipercaya 100 persen.

Kiat kedua adalah pengaturan energi. Menurut Revit, penting untuk tidak hanya mengatur waktu, tetapi juga energi, dengan menjaga pola tidur dan pola makan yang teratur.

Selanjutnya, ia menyarankan untuk melatih teknik pernapasan. Caranya bisa dengan menarik napas dalam empat hitungan, menahan empat hitungan, dan melepaskan dalam empat hitungan, atau menggunakan pola 4-7-8 hitungan. Teknik ini membantu menenangkan sistem saraf.

Revit juga mengajak masyarakat untuk menurunkan standar perfeksionisme. Lingkungan di sekitar kita, kata dia, tidak selalu menuntut kesempurnaan yang berlebihan. Contohnya, daripada memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam demi dinilai terbaik, lebih baik pulang, beristirahat, dan beribadah. Demikian pula saat menyiapkan sahur, tidak perlu berlebihan hingga memakan banyak waktu di malam hari jika bisa disiapkan di pagi hari.

Cara lain yang efektif adalah menerapkan "self talk" positif. Ini bisa dilakukan melalui kegiatan jurnaling, mengganti kalimat-kalimat negatif menjadi positif, serta berbicara dengan diri sendiri untuk memaafkan orang lain dan diri sendiri. "Sebelum tidur, minta maaf sama diri sendiri, karena perfeksionis, padahal lingkungan tidak minta itu. Setiap malam afirmasi dan minta maaf ke diri sendiri," tuturnya.

Terakhir, Dokter Revit menyarankan untuk menyisihkan waktu untuk "me time spiritual". Hal ini bisa diisi dengan mengaji, salat tarawih, dan tadarus Al-Qur'an.

Rangkuman poin-poin penting yang disampaikan Dokter Revit Jayanti menyoroti bahwa bulan Ramadan, meskipun sarat berkah, dapat memunculkan tantangan kesehatan mental akibat perubahan fisiologis dan rutinitas. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengenali dan memvalidasi emosi, mengatur energi melalui pola tidur dan makan, mengelola stres dengan teknik pernapasan, serta menurunkan ekspektasi perfeksionisme. Selain itu, praktik "self talk" positif dan meluangkan waktu untuk kegiatan spiritual sangat dianjurkan.

Analisis dampaknya bagi masyarakat menunjukkan bahwa kiat-kiat ini dapat membantu individu menjalani ibadah puasa dengan lebih tenang dan damai, mengurangi potensi stres dan konflik akibat perubahan pola hidup, serta fostering lingkungan yang lebih pengertian dan suportif. Dengan menjaga kesehatan mental, setiap individu diharapkan mampu memaksimalkan ibadah dan refleksi diri di bulan Ramadan, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas spiritual dan keharmonisan sosial.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.