Ceria Kembali di Aceh Tengah: Trauma Healing dan Pendampingan Psikologi Bantu Anak-anak Penyintas Banjir Bangkit
Puluhan anak-anak korban bencana di Aceh Tengah kini mulai menata kembali kehidupan mereka dengan semangat baru. Pendampingan psikologi intensif menjadi kunci pemulihan trauma pascabencana yang melanda wilayah tersebut, berkat kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Universitas Teuku Umar (UTU).
Program pendampingan ini secara khusus difokuskan pada anak-anak yang terdampak di Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Irsadi Aristora, seorang dosen dari Universitas Teuku Umar, menjelaskan bahwa selama kurang lebih tiga bulan terakhir, timnya telah menjalankan program yang disebut "sekolah bencana". Program ini dirancang untuk menyembuhkan trauma anak-anak melalui berbagai kegiatan, termasuk permainan dan aktivitas sosial lainnya. Irsadi berharap upaya pengabdian ini dapat membuat kondisi psikologis anak-anak semakin membaik.
Bencana banjir yang melanda wilayah Aceh Tengah pada 25-30 November lalu meninggalkan dampak signifikan. Di Kampung Toweren saja, tercatat ada 90 anak dan balita yang menjadi penyintas. Pasca banjir, mayoritas anak-anak ini sempat mengungsi di posko kebencanaan selama kurang lebih tiga bulan sebelum akhirnya kembali ke kediaman pribadi masing-masing.
Rahmat Hayatun Nupus, Ketua Program Unit Kegiatan Mahasiswa Berdampak Penanggulangan Bencana Universitas Teuku Umar, menyatakan bahwa saat ini kondisi anak-anak yang terdampak sudah jauh membaik. Hayatun, yang juga mahasiswa jurusan hukum UTU, mengungkapkan bahwa membantu masyarakat dan anak-anak korban bencana sudah menjadi kebiasaan dan komitmen tim mereka. Ia menambahkan, timnya juga memiliki pengalaman serupa dalam memberikan pendampingan di beberapa daerah lain yang dilanda bencana.
Rangkaian pendampingan psikologis ini menunjukkan pentingnya perhatian serius terhadap kesehatan mental anak-anak pascabencana. Upaya kolaboratif antara pemerintah dan institusi pendidikan ini tidak hanya membantu proses penyembuhan trauma, tetapi juga membentuk kembali harapan dan optimisme di tengah masyarakat. Bagi komunitas secara keseluruhan, dukungan semacam ini krusial untuk mencegah dampak jangka panjang trauma pada tumbuh kembang anak, memastikan mereka dapat kembali beraktivitas normal, serta membangun ketahanan mental yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan di masa depan. Ini adalah langkah fundamental dalam pemulihan komunitas, melampaui sekadar bantuan fisik semata.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.